Tuesday, August 5, 2014

Satu Arah dari Puncak di Simpang Rawi

Menunggu satu arah dari puncak di Simpang Rawi Bogor
Sabar menunggu satu arah dari puncak di Simpang Rawi Bogor
Berlebihan rasanya jika menyebut kesialan pelancong yang dalam perjalanannya menuju lokasi berwisata terkena macet berjam-jam sebagai bencana. Kau harusnya malu, pada orang-orang lain yang terkena bencana sesungguhnya.

Aku lebih suka menyebut pengalamanku dan sembilan kawan, dari komunitas jurnalis di Kalibata, Jakarta, yang terkena satu arah dari Puncak sebagai sebagai kesialan saja. Yeah, sebuah kesialan yang seharusnya dapat aku perkirakan.

Waktu itu, hari Selasa 29 Juli 2014 Masehi, alias 2 Syawal 1435 Hijriah, hari ke 2 Idul Fitri, kami tertahan selama empat jam di pertigaan Simpang Rawi, Ciawi, Bogor, di dalam sebuah mobil mikrolet colt kecil, karena terkena satu arah dari Puncak. Mobil mulai terparkir sekitar pukul 17.30 WIB, lalu baru bergerak menuju puncak pukul 22.20 WIB.

Mobil itu sebenarnya melayani rute angkutan kota dari Mall BTM, Terminal Ramayana menuju Curug Nangka di Ciapus. Namun, kami sewa sejak dari pertigaan sejak perjalanan dari pertigaan Pura Jagatkarta, Ciapus, Tamansari, Bogor. Pura tersebut lokasi kunjungan kami yang pertama pada hari itu. Angkot itu kami sewa dengan tarif Rp500.000 sampai tujuan.

Tujuan berikutnya, yang membuat kami harus terkena satu arah dari Puncak di Simpang Rawi tersebut adalah Rungkun Awi, di Cisampay, Tugu Selatan, Cisarua, Bogor, sebuah kawasan konservasi hulu Sungai Ciliwung. 

Awalnya, dalam itinerary, aku memperkirakan, perlu waktu satu jam dari Pura menuju Kota Bogor, kemudian dua jam dari Kota Bogor menuju Rungkun Awi. Demikian setelah berkonsultasi dengan orang yang rumahnya di Bogor, yang bilang kalau Bogor akan macet pada hari itu.

Aku sangka, perkiraan waktuku itu cukup lega. Bodohnya, aku alpa memperkirakan, kalau akan terkena satu arah dari Puncak itu. Jika pun kena satu arah, biasanya hanya per satu jam, atau per dua jam.
Mobil pengangkut rombongan kami yang parkir di pertigaan Simpang Rawi, Bogor
Mobil pengangkut rombongan kami yang parkir di pertigaan Simpang Rawi, Bogor
Informasi yang aku dapat dari warga sekitar, kami terkena satu arah dari Puncak yang ke-3 untuk hari itu. Buka tutup satu arah yang sebelumnya selama masing-masing dua jam. Informasi itulah yang membuat ketika menunggu dalam dua jam, kami masih tenang. Kami gelisah setelah lewat dua jam menunggu.

Belakangan, setelah dibuka, kami mafhum, buka tutup itu sesungguhnya situasional, tidak ada aturan baku. Toh, setelah arah menuju Puncak kembali dibuka, rupanya untuk kembali menjadi dua arah, bukan satu arah menuju Puncak, tidak ditutup arah dari Puncak-nya.

Tak ada gunanya juga buat kita mengajak bicara petugas polisi yang bertugas, meminta mereka segera membuka jalan, atau menanyakan kapan jalan kita dibuka. Toh, pembuat keputusan tersebut bukan mereka, dan mereka juga akan segera membuka jika ada perintah. Namun, alangkah baiknya buka tutup itu diumumkan secara jelas, dan tegas diberlakukan kepada semuanya, jam berapa akan dibuka, jam berapa akan ditutup. Sehingga jelas bagi kita pengguna jalan, dan akan membantu kita membuat keputusan, apakah akan menunggu tanpa kepastian, atau memilih balik kanan saja. 

1 comment: