Thursday, July 24, 2014

Menjadi Jurnalis Travel

Dirjen Haji dan Umroh Anggito Abimanyu
HAYOOO, SIAPA YANG MAU HAJI? NABUNG YAAA, ANTRI YAAA!
Sebagai pekerja penulis lepas, alias freelance, atawa independen, atau kadang kala disebut juga mandiri, hanya pernah sekali naskahku berhasil tayang di media travel (perjalanan). Waktu itu di sebuah media berformat majalah yang cetakannya beredar di maskapai pesawat nasional (inflight magazine), untuk edisi Oktober tahun 2011.

Btw, memang hanya pernah sekali itu aku sebagai freelance (bukan karena penugasan) menawarkan naskah cerita travel ke media, dan kebetulan laku dimuat. Sebutlah itu keberuntungan pemula. Sampai sekarang belum pernah coba lagi sih.

Waktu itu, aku buat cerita tentang kondisi terkini puncak Gunung Merapi, dari (angle) sudut pandang seorang pendaki, dengan memberi perbandingan dari sejak sebelum dan sesudah erupsi yang terjadi pada Oktober 2010. Cerita yang sederhana saja, tidak terlalu istimewa, dilengkapi lima foto biasa saja yang kubuat dengan sebuah kamera saku yang mbuh.

Aku tidak kenal editor media tersebut, editor itu juga tidak mengenal aku. Laporan itu juga bukan sebuah penugasan. Caraku menawarkan naskah, ya lewat alamat email resmi majalah itu.

Sebelumnya, aku kurang referensi bagaimana membuat cerita travel yang menarik. Referensi menulis di kepalaku, kebanyakan hanya berdasar menulis laporan berita, cerita-cerita komunitas, dan gaya hidup, dari pekerjaan tetap di kantor sebelumnya.

Beberapa hari lalu, aku mendapati sebuah website berjejaring berbahasa Inggris, berbasis di Amerika Serikat. Mereka menyediakan informasi dari dunia travel secara multimedia (teks, foto dan video). Dari website itu, aku mendapat tips, atau panduan, bagaimana menulis travel yang lebih baik. Judulnya sih "11 Secrets to Being a Successful Travel Journalist in 2014", aku terjemahkan menjadi "11 Rahasia Untuk Menjadi Seorang Jurnalis Perjalanan pada tahun 2014". Tajuk yang megah sekali rasanya yah.

Aku pikir akan bermanfaat jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Untuk siapa saja pemakai Bahasa Indonesia yang mau memproduksi cerita travel yang memikat. Perbedaannya toh cuma bahasa.

Eh, selain itu, tips itu sungguh mengikuti kondisi kekinian, mutakhir, alias kontemporer. Tidak disarankan lagi menceritakan kondisi yang terlihat di permukaan saja. Karena harus disadari, pembaca cerita perjalanan sekarang ini mempunyai akses terhadap apa yang terlihat lewat berbagai media teknologi digital, peranti gadget, peta elektronik online, sosial media, dan semacamnya. 

Abaikan saja istilah "menjadi jurnalis travel" itu, jika dirasa terlalu berat. Panduan ini untuk siapa saja yang hendak melakukan perjalanan, dan ingin memproduksi cerita perjalanannya dengan keren. Syukur jika layak tayang di media massa dengan editorial. Perkara itu produk jurnalis atau bukan, biarkan itu jurnalis bersertifikat yang menilai. Niatkan saja untuk belajar memproduksi cerita travel perjalanan yang menarik.

Ini terjemahan bebasnya:


1: DAPATKAN LEBIH DARI DESKRIPSI TUJUAN
Banyak penerbit media -- dan secara umum, para pencerita di dalamnya -- terjebak dalam paradigma dekade lama yang menyempitkan "penulisan travel" dalam format tunggal: "cerita deskripsi lokasi".
Demikian adalah bentuk cerita yang panjangnya menengah, narasi berbasis sudut pandang orang pertama terhadap kondisi sekitar, yang terencana, dan mudah ditiru. Laporan tersebut kaya dengan rincian tentang makanan dan kegiatan, tetapi miskin pengembangan karakter, pengamatan budaya, sejarah alam, atau apapun yang menyimpang terlalu jauh dari industri pelayanan. Tujuan laporan tersebut untuk menyenangkan, mudah dicerna bagi pembaca di koran Minggu atau saat duduk di (menunggu) pesawat. 
Tapi di luar sisi koran cetak dan majalah inflight, formula itu semakin tidak relevan di tahun 2014. Ketika wisatawan menggunakan aplikasi digital (dan Google Maps offline) sebagai buku panduan,
mereka mendapat inspirasi perjalanan dari banyak sumber yang sederhana seperti gambar yang terlihat di Tumblr atau Pinterest atau galeri kawannya di Facebook.
Inilah hal-hal yang memiliki relevansi sosial saat ini: Komentar sosial; esai pribadi; investigasi jurnalistik dalam isu-isu lingkungan atau politik; kritik budaya, potongan-potongan lucu tentang bahasa, budaya, tempat, hubungan, video web berkarakter, esai foto, narasi panjang.
Ini bukan berarti bahwa Anda tidak bisa lagi menulis "deskripsi lokasi". Tapi kemudian apa lagi?

2: DAPATKAN LEBIH DARI KEMASAN YANG "TRADISIONAL"
Masih pengembangan dari poin pertama, banyak publikasi masih menampilkan model pasaran:
"berpakaian renang di pantai" sebagai pencitraan dari "wisata", dan dipenuhi tulisan klise yang dimaksudkan untuk menjual lokasi tersebut.  

Yang menarik pada tahun 2014 adalah yang autentik (nyata, dapat dipercaya). Bagaimana cerita Anda terlihat dan terasa? Bagaimana karakter Anda ditampilkan? Bagaimana cerita itu sungguh-sungguh persis, jujur, sesuai kenyataan yang Anda alami? 

3: ANGKAT IDENTITAS ANDA 
Bagaimana narasi pribadi Anda? Apakah Anda tumbuh dan menggunakan lebih dari satu
bahasa? Darimana asal Anda? Bagaimana caranya masuk ke dalam persepsi Anda sebagai
traveler, pencerita? Ini adalah hal pertama yang kami tanyakan kepada pelajar kami, dan
dari pertanyaan-pertanyaan ini saja kita sering mampu mengembangkan cerita yang berhasil.


4: BANGUN KARAKTER YANG INGIN ANDA LIHAT
Apakah ada orang lain yang berbagi identitas yang sama? Bagaimana audiens ini terwakili dalam media travel? Jika Anda dapat membayangkan penyampaian tertentu untuk audiens itu, Apa yang menghambat Anda (Kenapa tidak, gunakanlah)? Suatu ceruk pembeda kecil tetap sebuah "kartu pemikat" yang dapat membuat Anda menonjol dari kerumunan pencerita lain ketika Anda tampil di depan editor dan penerbit.

5. HARGAI SEMUA PROSES A - Z DARI KETERAMPILAN ANDA
Alih-alih mengharapkan sukses dalam semalam, pencerita ulung mendedikasikan waktu bertahun-tahun untuk mencapai keterampilannya, yang mencakup perkembangannya-- berupa proses harian menulis, merevisi, mengambil gambar, menyunting--sebagai sebuah imbalan tersendiri. Perkembangan dari A ke B ke C, membuat langkah-langkah kecil tapi terukur dalam kemajuan, adalah pendekatan yang harus Anda lakukan untuk semua karya publikasi Anda. Ini mengajarkan kesabaran, kematangan, dan kesadaran diri, yang muncul dari cara Anda menampilkan diri.

6. BERPIKIRLAH SEPERTI SEORANG PENERBIT
Apa pokok cerita Anda? Siapa yang akan Anda ceritakan? Foto? Video? Terlepas dari
di mana Anda akan mempublikasikannya, pikirkan juga bagaimana Anda bisa mempromosikannya. Tujuan Anda tidak hanya untuk menghasilkan karya besar, tetapi untuk memastikan cerita Anda menjangkau masyarakat. Misalnya, jika Anda menulis sudut pandang yang unik tentang masakan di Buenos Aires, cari tahu juga adakah di Facebook Pages, blog, dan / atau publikasi daerah yang secara teratur juga menceritakan jenis pekerjaan itu. 

Dan jika Anda bertanya-tanya bagaimana caranya untuk menjangkau mereka, pastikan Anda:

7.  BERKAWAN DENGAN MANAJER MEDIA SOSIAL
Hari-hari ini, berkawan dengan para manajer media sosial sama pentingnya dengan para editor. Bahkan batasannya sering kabur; mereka bisa jadi satu orang yang sama. Bagaimana Anda mengatasinya. Ini tidak terlalu berbeda dari interaksi lain. Hal terakhir yang orang inginkan adalah promosi dagang. Sebaliknya:


8. KOMUNIKASI LANGSUNG, DENGAN KECEPATAN (DAN KEAKRABAN) SEORANG PROFESIONAL
Formalitas dan email panjang cuma menunjukkan bahwa, "saya seorang amatir, dengan waktu yang berlimpah". Dapatkan perhatian dengan mengikuti halaman media sosial mereka, mengomentari posting mereka. Pertimbangkan juga untuk mention akun twitter mereka melalui. Tunjukkan antusiasme yang sesungguhnya dan dengan rasa hormat. Dan ketika Anda berhasil mencapainya, jangan buang waktu, jadilah orang yang jernih dan percaya diri. Berbagilah alamat URL-nya, dan buat email kalimat-kalimat pendek. Dan jika mereka tidak menjawab, ingatlah:


9. JANGAN ANGGAP DIAMNYA SEBAGAI PENOLAKAN
Sebagai sebuah pesan yang tidak muncul dari lingkaran utama kolega Anda, bisa jadi email Anda akan dianggap tidak penting. Umumnya, pesan tersebut akan terdorong ke urutan email terbawah, dan bisa jadi terlewat. Cobalah untuk menindaklanjuti lagi beberapa hari kemudian. Penerbit yang terbaik itu adalah yang tidak punya belas kasihan. Namun, pada saat yang sama, evaluasilah, jika mungkin Anda:


10. RANCANG KARYA ANDA MENGIKUTI KEMAUAN MEDIA
Editor (dan manajer media sosial) selalu mencari karya yang mewakili karakter merek mereka. Jika mereka sudah menerbitkan beberapa serial, mengapa tidak menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan karakter Anda sekaligus karakter mereka juga? Idenya adalah, Anda benar-benar memberi mereka tautan sempurna. Sehingga hanya membuat mereka berpikir 20 detik, atau kurang ketika membaca email, subjek Anda, 3 baris pertama, dan menyadari, "Ya, sempurna, kerjakanlah".

11. JANGAN SEMATA MENGIKUTI ALUR PERJALANAN MEDIA, TAPI CARILAH PELUANG UNTUK KEPENTINGAN ANDA PRIBADI

Jika Anda berada dalam posisi untuk mengikuti perjalanan pers (media trip), jangan jadi blogger atau penulis yang hanya mengikuti jadwal perjalanan seperti diberikan sponsor. Bekerjasamalah dengan penyelenggara, dan jelaskan ide cerita khusus Anda dan pengalaman apa yang ingin Anda dapatkan. Menampilkan minat khusus semacam ini, secara otomatis membedakan Anda dari yang lain.

4 comments:

  1. ini keren sekali. terima kasih sudah berbagi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasa saja, terima kasih sudah meninggalkan jejak yah.

      Delete
  2. lama ga mampir kok berubah jadi blogspot yaa..
    ah mungkin aku sedang lupa..
    aku jadi tertarik untuk belajar menulis lagi sepertinya tulisanku mash berantakan tidak seperti tulisanmu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sengaja No, karena kualitas hosting sebelumnya mengecewakan.
      Belajar teruslah, jangan berhenti

      Delete